RTRW-Net dari jaringan swadaya lingkungan hingga peluang bisnis komersial

Permintaan akan kebutuhan akses internet di Indonesia dilaporkan meningkat pesat sejak tahun 2001. Tersedianya beragam pilihan koneksi dari mulai dial-up, ADSL, nirkabel hingga koneksi berbasis satelit (VSAT) membuat masyarakat (end user) pengguna internet semakin memiliki banyak pilihan.

Selain beragam pilihan koneksi, turunnya tarif berlangganan internet turut meningkatkan animo masyarakat untuk menggunakan jasa internet. Salah satu penyedia jasa internet melalui jaringan TV Kabel bahkan mematok tarif sekitar 100 ribu per-bulannya tanpa batasan kuota data atau waktu dengan kecepatan 384 Kbps.

Tarif semurah ini sungguh sulit dibayangkan sebelum tahun 2007. Sedangkan dari segi kualitas, walaupun tidak dapat dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, namun telah nampak adanya perbaikan-perbaikan dari segi layanan. Cakupan wilayah (coverage area) juga menentukan perkembangan industri komunikasi data ini. Satu faktor yang tidak kalah pentingnya adalah perkembangan teknologi infrastruktur jaringan internet.

Pada tulisan kali akan dibahas bagaimana fenomena menjamurnya infrastruktur jaringan internet skala kecil secara swadaya hingga dapat dimanfaatkan masyarakat luas sebagai end user guna mendapatkan layanan internet murah dan berkualitas serta potensi pemanfaatan dan pengembangan dari jaringan ini.

Ada fenomena yang berkembang di Indonesia sejak tahun 2002 mengenai alternatif infrastruktur jaringan internet skala kecil yang dapat diterapkan pada lingkungan perumahan. Entah siapa yang pertama kali menamakannya namun istilah RTRWnet kerap dikaitkan dengan infrastruktur jaringan internet skala kecil tersebut. Sebagian mengatakan kata RTRWnet diadopsi dari skala jangkauan infrastrukturnya yang hanya menjangkau kawasan RT dan RW, sebagian lagi mengaitkan istilah RTRWnet dengan pembangunan jaringan internet yang melibatkan unsur warga didalam lingkungan RT atau RW.

Jaringan RTRWnet menggunakan kabel RJ-45 (UTP)

“Jatuhnya jadi murah Mas, rata-rata warga disini hanya dikenakan tarif urunan hanya sebesar 100 ribu rupiah perbulannya” tukas Nanto penggagas RTRWnet dikawasan Serpong, Tangerang. Nanto dan warga disekitar rumahnya yang berjumlah 10 orang membangun jaringan kecil dengan menggunakan kabel RJ-45 atau yang juga dikenal dengan kabel LAN (Local Area Network). Nanto yang bekerja sebagai konsultan bisnis pada salah satu perusahaan swasta di Jakarta mengemukakan bahwa tarif urunan menjadi lebih murah karena warga disini menggunakan metode internet sharing dengan memanfaatkan jaringan RTRWnet tersebut.

Jadi cukup satu rumah yang berlangganan akses internet dengan biaya sekitar 825 ribu rupiah setiap bulannya. Kemudian akses internet tersebut dibagi kepada 10 warga disekitarnya sehingga para warga cukup membayar sekitar 100 ribu rupiah setiap bulannya, sehingga terkumpul sekitar 1 juta rupiah setiap bulannya. Sisa dari urunan tersebut diinvestasikan untuk pembayaran listrik dan pemeliharaan jaringan. Untuk pembangunan awal infrastrukturnya termasuk pengadaan perangkat dan jasa pemasangan memakan biaya sebesar 4 juta rupiah yang dibebankan kepada 10 penggunanya, dia menggunakan jasa perusahaan supplier perangkat IT di bilangan Ragunan Jakarta Selatan. Sedangkan untuk jasa pemeliharaan atau jika terjadi masalah pada jaringan ia menggunakan jasa teknisi IT di dekat tempat tinggalnya yang mematok tarif 150 ribu rupiah setiap kunjungan.

Jaringan RTRWnet menggunakan akses nirkabel frekuensi 2.4 Ghz

Lain halnya dengan Cahyo, warga di kawasan Cibubur Jakarta Timur ini menggunakan teknologi nirkabel dalam membangun jaringan RTRWnetnya. Menurut Cahyo pemilihan teknologi jaringan nirkabel frekuensi 2.4 Ghz (WLAN) disebabkan posisi rumah warga yang ingin mendapatkan akses internet saling terpisah jauh, sehingga jika menggunakan infrastruktur kabel RJ-45 seperti yang digunakan Nanto maka baik biaya pembangunan maupun pemeliharaannya akan jauh lebih mahal.

Untuk pembangunan awalnya memakan biaya 10 juta rupiah sudah termasuk biaya survey lapangan, perangkat access point, perangkat penghubung antar jaringan yang berbeda (router) beserta perangkat radio penerima lengkap dengan antenanya yang diletakan di rumah warga. Biaya tersebut dibebankan kepada 12 warga penggunanya, kemudian untuk urunan bulanannya warga disekitar rumah Cahyo mengeluarkan biaya 110 ribu rupiah setiap bulannya termasuk untuk berlangganan internet dan investasi pemeliharaan perangkat.

Cahyo pada awalnya sebenarnya berminat berlangganan internet melalui jaringan TV Kabel namun ternyata wilayahnya belum masuk dalam jangkauan provider tersebut. Selain melalui jaringan TV Kabel Cahyo juga sempat berminat pada penawaran salah satu perusahaan provider internet berbasis nirkabel yang mematok biaya pasang 1.2 juta dan 250 ribu rupiah untuk berlangganan setiap bulannya, namun sudah 3 bulan sejak ia menghubungi provider tersebut belum mendapat respon. Sedangkan berlangganan akses koneksi ADSL terasa berat jika ditanggung sendiri (sekitar 825 ribu rupiah setiap bulannya).

Kualitas Akses

Dalam hal kecepatan akses menurut penuturan Nanto dan Cahyo cukup memadai. Memang jika diperkirakan dengan sumber akses internet broadband 384 Kbps yang akan dibagi kepada 10 pengguna maka rata-rata pengguna akan mendapatkan akses minimal 10Kbps – 32Kbps jika diasumsikan seluruh pengguna menggunakan akses bersamaan, dan kecepatan ini dapat bertambah jika para pengguna sedang tidak menggunakan akses internet diwaktu yang sama, maka kecepatan dapat mencapai maksimum 100Kbps – 320Kbps.

Kualitas kecepatan tersebut dapat ditingkatkan seiring dengan besarnya bandwidth sumber akses internet. Dengan minimum kecepatan 10Kbps hingga 32 Kbps saja kira-kira sudah setara dengan kecepatan internet melalui koneksi dial-up yang mengenakan tarif sekitar 6.000 hingga 9000 rupiah perjam atau koneksi GPRS yang mematok tarif 5.000 – 20.000 rupiah setiap 1 MB data (kira-kira setara 10 – 20 kali kunjungan website).

Jika dibandingkan dengan kedua koneksi diatas maka menggunakan internet RTRWnet jauh lebih menguntungkan dengan tarif sekitar 100 ribu setiap bulan tanpa batasan waktu atau kuota data selama 24 jam nonstop setiap harinya. Potensi RTRWnet Selain itu keuntungan lainnya sebagai fungsi jaringan lokal yang memiliki kecepatan akses data hingga 10 – 1000Mbps (tergantung perangkat), jika ditambah perangkat lunak (software) tambahan, juga dapat digunakan sebagai sarana komunikasi suara (VOLAN), streaming video gratis dan game online antar sesama pengguna.

Disisi lain jika dikembangkan lebih lanjut RTRWnet dapat menjadi pemain baru dalam bisnis komunikasi data. Jaringan RTRWnet ini ternyata juga dapat menjadi lahan bisnis jika diterapkan secara profesional, sebuah warnet dikawasan Bintaro kini juga menjual jasa akses internetnya ke rumah-rumah warga disekitar (radius 3KM) dengan menggunakan jaringan nirkabel 2.4 Ghz. Jika ditilik dari karakteristik kedua jaringan tersebut diatas maka penggunaan infrastruktur nirkabel 2.4 Ghz seperti yang digunakan Cahyo lebih dapat berpotensi berkembang menjadi perusahaan komersial jasa internet berbasis nirkabel (Wireless ISP). Tentu saja dalam praktik dagangnya kualitas akses tersebut dilabeli “Up To” alias tidak mencantumkan kualitas kecepatan asli minimum koneksi yang berkisar 10 – 32 Kbps namun jika sudah dipasarkan untuk kepentingan komersial maka labelnya menjadi “Kecepatan Up To 384 Kbps” (kecepatan maksimum) atau dilabeli “Up To 128 Kbps” agar tidak terlalu “mencolok”.

Strategi dagang yang sebenarnya kurang fair namun diamini hampir seluruh penyedia jasa komunikasi. Karena memang tidak menipu, artinya mungkin saja mendapat kecepatan itu, namun pada implementasinya sangat sulit dan hampir tidak mungkin mencapai akses seperti itu, inilah yang dikatakan memanfaatkan ketidaktahuan konsumen akan seluk beluk kualitas koneksi.

Fenomena RTRWnet telah menumbuhkan semangat swadaya masyarakat sekaligus mengubah anggapan bahwa kepemilikan infrastruktur komunikasi hanya didominasi oleh pihak investor besar. Pada RTRWnet, masyarakatlah yang menjadi pemilik infrastruktur jaringan data ini.

Tak urung perusahaan-perusahaan besar telekomunikasi besar sempat gerah ketika melihat potensi gerakan RTRWnet yang dapat berpotensi melahirkan komunikasi data dan suara yang murah jika saja hak frekuensi atas Wimax (nirkabel), teknologi yang memiliki daya jangkau lebih luas dibebaskan pemerintah pada Februari 2007 mendatang, dan dengan didukung aplikasi seperti VOIP-M (Voice Over Internet Protocol – Merdeka) sebuah gagasan dari Onno W Purbo pakar telekomunikasi Indonesia, bukan tidak mungkin jika nantinya komunikasi suara diseluruh Indonesia ini dapat menjadi gratis dengan memanfaatkan teknologi ini, prototipe sejenis telah dibangun disalah satu kota di Eropa.


Artikel yang mungkin terkait:

  1. Bisnis Warnet & Game Online
  2. Rame-rame Ikut Bisnis Franchise Biofir
  3. Antara Gaji Web Developer, Web Designer, Status Bekerja Hingga Tuntutan Mertua

Sharing Ke Facebook | Sharing ke Twitter


 
Belum ada komentar. Berikan komentar atau berikan Trackback.

 

Komentar dengan Facebook?

Connect with Facebook

Komentar:

[+] kaskus emoticons

 
 
-->