REFORMULASI DIPLOMASI AMERIKA DI ASIA TENGGARA
Sembilan hari setelah serangan 11 September 2001 Presiden Bush dalam pidatonya didepan Kongres menyatakan perang terhadap teroris Internasional dan mengatakan akan menggunakan seluruh kekuatan nasional Amerika untuk membasmi Jaringan teroris beserta negara-negara yang mendukungnya tetapi akan membantu sepenuhnya negara-negara yang bergabung dengan Amerika untuk memerangi terorisme. Pernyataan ini mengingatkan pada situasi politik luar negeri Amerika seperti pada masa Doktrin Truman di tahun 1947, dan di awal era Perang Dingin.
Jatuhnya Afganishtan yang dianggap oleh Amerika bersama dengan sekutu-sekutu lamanya sebagai “sarang teroris” dan “rumah Al Qaeda” tidak membuat Amerika tenang, mereka percaya jaringan-jaringan teroris masih akan terus mengusik mereka. Mereka hanya memenangkan sebuah pertempuran belum memenangkan perang. Jaringan teroris ini diyakini bersembunyi diseluruh pelosok dunia, sehingga bukan pekerjaan mudah bagi Amerika untuk melacaknya. Selama sembilan bulan setelah serangan 11 September 2001 dengan memanfaatkan koordinasi seluruh kekuatan lembaga nasional Amerika yang ada seperti; Dewan Keamanan Nasional (NSA), Badan Intelejen Pusat (CIA), Departermen Pertahanan (USDF), Departermen Luar Negeri, dan lainnya Presiden Bush telah melakukan berbagai tindakan dalam kampanye anti terorisnya baik dalam penggunaan kekuatan militer maupun jalur diplomasi.Disini ada yang menarik dari salah satu strategi Bush di bidang diplomasi, yaitu mengirim utusan – utusan strategisnya ke negara-negara Asia Tenggara.
Yang kini menjadi pertanyaan besar ialah apa dibalik misi Amerika pada bulan Juli-Agustus 2002 ini mengirim pejabat-pejabat tingginya ke negara-negara Asia Tenggara? Setelah sebelumnya Amerika banyak melakukan diplomasi ke negara-negara Arab, Asia Selatan dan Timur dalam kampanye Counter Terrorism nya seperti India, Pakistan, RRC, Korea Utara, Korea Selatan kini Amerika tertarik untuk membuat konsensus bersama negara-negara Asia Tenggara, mengenai isu tersebut. Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa baru sekarang setelah hampir empat tahun terakhir?
Apakah kepentingan Amerika disana? Amerika mulai merasakan bahwa hegemoninya dikawasan ini mulai terganggu, mereka mulai khawatir dengan maraknya demonstrasi anti Amerika beberapa negara di kawasan ini bahkan Presiden Malaysia Mahatir Mohammad pernah menyatakan ketidaksukaannya secara langsung terhadap serangan Amerika plus sekutunya ke Afganistan yang dianggap Mahatir sebagai invasi yang melanggar kedaulatan suatu negara ditambah lagi dengan ditemukannya serangan udara yang salah sasaran oleh Amerika plus Sekutu ke Afganistan. Namun ketegangan ini tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian latihan perang gabungan antara Malaysia dengan Amerika digelar di Malaysia, setidaknya ini dapat mencairkan hubungan kedua negara. Sedangkan di Indonesia juga sempat terjadi sweeping warga Amerika oleh kelompok Islam garis keras, ditambah lagi dengan demonstrasi anti Amerika di Kedubes Amerika dan Konsulatnya di Indonesia, terakhir maraknya perekrutan laskar jihad untuk membantu Afganistan, walaupun yang berhasil tiba di Afganistan hanya sebanyak 2 warga Indonesia itupun hingga kini belum jelas darimana asal keberangkatan mereka. Sedangkan di Filipina ratusan warga Mindanao berdemonstrasi menuntut agar Presiden Arroyo mengeluarkan kecaman terhadap aksi militer Amerika ke Afganistan.
Walaupun negara-negara Asia Tenggara sebagian besar merupakan negara dibawah pengaruh politik depedensinya namun Amerika tetap merasa khawatir dan terganggu dengan reaksi yang terjadi dinegara – negara tersebut terhadapnya. Untuk mencegah terjadinya efek domino dikawasan tersebut inilah mungkin yang memaksa Amerika mengerahkan diplomasinya kesana. Selain itu Amerika nampaknya juga mempunyai kepentingan untuk menyatukan visi negara-negara Asia tenggara agar sesuai/sama dengan konsep kampanye anti teroris Amerika. Hal ini dipandang perlu oleh mereka karena visi Asia Tenggara dalam memberantas teroris belum tentu sama seperti Amerika. Seperti contohnya asumsi mengenai pelaku teroris yang selama ini diidentikkan dengan gerakan Islam di dunia oleh Amerika ditentang oleh sebagian negara-negara Asia Tenggara. Rencananya bulan Agustus 2002 ini Menlu Collin Powell akan menghadiri pertemuan dengan Forum Regional ASEAN (ARF) yang dibentuk oleh negara- negara ASEAN untuk menanggulangi ancaman teroris internasional, dimana pada pertemuan sebelumnya negara-negara ASEAN dalam ARF menolak beberapa butir kesepakatan yang ditawarkan Amerika dalam kerjasama pertahanan, meski demikian hal tersebut belumlah hasil final dari misi diplomasi Powell disana.·
Apapun dan dimanapun sasaran strategi kebijakan luar negeri Amerika Serikat, mereka harus tetap memprioritaskan keamanan nasional mereka yang kelihatanya masih rapuh terbukti pada penanggulangan penyerangan lewat virus anthrax yang lambat ditangani ataupun ketar-ketirnya aparat keamanan, intelejen, dan penyelidik federal mereka ketika menjelang hari perayaan kemerdekaan Amerika 4 juli 2002 yang lalu, karena walau bagaimanapun kepentingan akhir dari seluruh strategi Amerika Serikat di dunia internasional tak lepas untuk stabilitas keamanan nasional mereka dari gangguan teroris internasional.
Tidak ada artikel terkait.
Sharing ke Twitter



