Bakti Sosial Yang Salah Kaprah
Acara bakti sosial sedianya adalah memberikan / mendistribusikan bantuan kepada yang memerlukan dalam bentuk yang beragam, biasanya tempatnya jauuuh. Ada penyuluhan, pembangunan infrastuktur desa, atau bantuan berupa uang dan bahan makanan pokok. Meski begitu, jika dilakukan dengan tanpa pengamatan terlebih dahulu, lebih baik batalkan saja bakti sosialnya dan tidur dirumah daripada anda berangkat namun merusak kearifan lokal yang ada.
ASAL BANGUN
Bakti sosial pertama yang saya maksud disini adalah jenis yang memberikan penyuluhan dan membangun infrastruktur – infrastruktur di daerah yang bahkan anda baru pertama kali kesana. Juga dalam hal ini saya batasi ruang lingkupnya pada kegiatan bakti sosial siswa sekolah atau mahasiswa, karena saya sendiri belum mengetahui konsep bakti sosial yang diselenggarakan organisasi masyarakat atau partai politik apakah modelnya sama seperti survey 1-2 hari, datang, membangun, pergi.
Pertama kita jangan memandang rendah kearifan lokal yang sudah ada di daerah bakti sosial, bisa jadi kearifan tersebut sudah berumur ratusan tahun. Tanpa juga memandang sebelah mata teknologi yang umumnya bersifat praktis dan efisien, namun harus dipertimbangan untuk mengadaptasi teknologi / budaya modern dengan kearifan lokal yang ada, salah – salah malah membuat penduduk sekitar susah.
Kita ambil contoh ilustrasi sebagai berikut;
Desa A penduduknya hidup dari berternak ikan lele sudah sejak puluhan tahun. Suatu waktu desa A kedatangan beberapa orang siswa dan guru pembimbing dari Kota besar. Kedatangan mereka rupanya dalam rangka survey untuk kegiatan bakti sosial sekolah.Dalam survey seharinya, rombongan siswa dan guru pembimbingnya tersebut berkesimpulan bahwa desa A memerlukan pembangunan sanitasi modern. Kesimpulan tersebut diambil setelah mereka mendapati bahwa semua warga desa A ternyata membuang hajat besarnya di kolam ikan mereka masing – masing. Maka beberapa hari kemudian mereka pun datang dengan rombongan siswa lainnya dibantu dengan beberapa tukang untuk membangun sebuah MCK umum.
Apa yang terlihat disana sekilas nampak sudah tepat guna bantuan dari para siswa tersebut, namun ada baiknya ditelaah kembali, mengapa mereka melakukan itu (membuang hajat besar di kolam ikan mereka) selama sudah puluhan tahun / beberapa generasi turun temurun? Ternyata ada beberapa manfaat disana yang mana tidak bisa kita pahami dalam sekejap saja.
Tinja dari mereka ternyata yang menjadi pakan alami ternak mereka… jijik? jorok? tidak sehat? Ok, boleh saja berasumsi demikian, namun perhatikan; jika kita cermati, rata – rata habitat ikan lele memang mengkonsumsi kotoran, lagipula untuk mengatakan hal tersebut tidak sehat, tentunya kita harus melihat juga statistik tingkat kesehatan di desa A untuk mengambil kesimpulan apakah benar kebiasaan tersebut tidak sehat?
Malah bisa jadi dengan dibangunnya MCK yang tersentralisasi, kini warga desa A harus mencari jalan kembali untuk memberi pakan kepada ikan mereka.
Baiklah itu hanya contoh ilustrasi sederhana saja, tentunya banyak lagi kearifan lokal yang tidak bisa kita pahami dengan hanya sesaat melakukan survey. Artinya jangan sampai niat baik kita malah berakibat pada kesusahan disisi mereka. Berikanlah apa yang benar – benar mereka butuhkan.
KENAPA JAUH – JAUH?
Lalu kemudian yang kedua, adalah yang juga “nge-trend” untuk bakti sosial, yaitu lokasinya. Selalu ditempat yang jauhnya mungkin beratus – ratus kilometer dari tempat kita tinggal, kalau itu namanya mungkin jadi lebih tepat “Darma Wisata” ketimbang Bakti Sosial
.
Tapi ok, saya tidak ingin membahas mengenai penamaan, tapi masalah lokasinya, apakah harus selalu ditempat yang jauh? sementara disekitar lingkungan kita mungkin ada juga warga / penduduk yang memerlukan bakti sosial kita?
Jadikanlah merata, jangkaulah daerah terdekat anda untuk ber-bakti sosial, misalnya ini diterapkan juga di seluruh kota besar, maka bakti sosial dengan sendirinya akan merata.
Tentu saja ini juga bukan keharusan, melainkan sebuah opsi untuk anda, haruskah selalu jauh – jauh? Mengapa tidak dilingkungan terdekat sekitar kita dulu?

Tulisan ini bukan dibuat untuk mendiskreditkan konsep bakti sosial tertentu, melainkan sebagai bahan introspeksi / otokritik, yang mana semoga berguna untuk meningkatkan kualitas bakti sosial.
Tidak ada artikel terkait.
Sharing ke Twitter | 


