Antara Gaji Web Developer, Web Designer, Status Bekerja Hingga Tuntutan Mertua
Bagi teman – teman web developer atau web designer di Indonesia pastinya sudah tahu bahwa bukan rahasia umum lagi kalau gaji profesi tersebut di Indonesia termasuk rendah jika ingin dibandingkan dengan negara – negara di dunia.
Akan halnya dengan profesi Internet Marketer, profesi web developer dan web designer pun dapat dijalankan secara online, atau lebih dikenal dengan istilah remote project.
Juga hampir sama nasibnya dengan profesi internet marketer, web developer dan web designer yang memilih pekerjaan dengan remote project masih dipandang sebelah mata dikalangan masyarakat umum, padahal pendapatan mereka dapat mencapai 3 hingga 10 kali lipat pendapatan web developer kantoran Indonesia.
Gaji dan Status Bekerja
Dalam pandangan masyarakat umum rata – rata masih memandang ukuran kemapanan adalah dinilai dari seseorang yang memiliki pekerjaan di kantor, baik rutin maupun tidak. Hal ini juga berlaku untuk profesi web developer dan web designer.
Peluang Minimum Pendapatan Remote Project
Padahal peluang kerja remote project memiliki prospek yang sangat cerah jika di kelola dengan baik. Saya ambil gambaran di suatu situs yang memfasilitasi antara pemilik project dengan web developer / designer, fee untuk pengerjaan satu buah project sederhana desain dapat mencapai minimum USD$150 (sekitar Rp. 1.5 juta) dan nilai maksimalnya bervariasi dikisaran ribuan dollar.
Dengan nilai fee rata – rata tersebut, maka seorang web developer / designer setiap bulannya akan mendapatkan penghasilan min. USD $150 jika hanya mengerjakan 1 project saja dalam 1 bulan. Berdasarkan pengamatan, dalam setiap bulan minimal dapat dikerjakan 8 project sederhana dan 2 project tingkat kesulitan menengah.
Gaji Web Developer / Designer Kantoran
Coba bandingkan dengan nilai gaji rata – rata web developer dan web designer kantoran Indonesia yang hanya berkisar Rp. 1 juta untuk fresh graduate + pengalaman sedikit dan Rp. 3 juta untuk yang berpengalaman, yang mana jumlahnya juga akan bervariasi tergantung dari faktor:
- Besarnya perusahaan
- Lokasi Kota (terkait UMR)
- Kebijakan Manajemen
Tentu prospek remote project menjadi cukup menjanjikan.
Demi Pembuktian Kepada Calon Mertua Dan Lingkungan
Ada hal yang terdengar konyol, namun tidak boleh diabaikan, yaitu banyak juga dari pekerja – pekerja remote project yang juga memilih pekerjaan kantoran demi mempersunting calon istrinya ![]()
Tentu saja hal ini terkait dengan “status bekerja” dan untuk menjawab pertanyaan calon mertua:
“Kamu kerja dimana Nak?”
Kalau dijawab di “PT anu” di daerah “situ”, percakapan akan lebih cepat dan menenangkan calon mertua, nah kalau dijawab:
“Saya freelancer di xxxx.com”
Maka akan banyak pertanyaan lagi yang mana sebagian besar akan sulit anda jelaskan kepada calon mertua anda, bahkan mungkin akan tidak dapat dijelaskan yang mana dampaknya akan berakibat pada tidak yakinnya calon mertua kepada anda
ironis bukan kehilangan calon pendamping hidup hanya karena jawaban yang tidak jelas? ![]()
Bahkan ada juga kasus yang dicurigai warga sekampung menang judi togel setiap bulannya
silahkan cek disini untuk membaca curhatannya.
Pengelolaan Remote Project
Saya punya langganan tempat membeli balance Paypal, awalnya saya curiga dengan orang ini, kok bisa setiap bulannya menyediakan kebutuhan balance Paypal saya yang USD$500 untuk keperluan membayar tagihan – tagihan, itu pun dia masih menawarkan kepada orang lain. Ini artinya ada lebih dari Rp. 7 juta didalam koceknya setiap bulannya.
Namun setelah diberikan screenshot dari sumber balance Paypalnya barulah saya yakin bahwa saya aman membeli dari orang ini, hingga akhirnya dia bercerita dari hasil mengerjakan remote project dia bisa menghasilkan minimal USD$2500 (sekitar Rp. 25jt) setiap bulannya.
Dari total tersebut dibagi lagi kepada freelancer yang bekerja pada dia, yaitu ada sekitar 2-3 orang setiap bulannya sehingga total bersih yang diterimanya tidak kurang dari USD$1500 (Rp. 10jt) setiap bulannya !!
Ini menunjukan jika dikelola dengan tepat, maka peluang pekerjaan remote project dapat berkembang dari freelancer single fighter menjadi semacam agensi kecil.
Sulitnya Mendapatkan Kredit Pinjaman
Tidak hanya disisi mertua dan lingkungan, disisi administrasi juga diperkirakan akan sedikit menemui kesulitan manakala ingin mengajukan kredit pinjaman entah kendaraan bermotor atau KPR.
Pasalnya rata – rata mensyaratkan slip gaji atau surat keterangan profesi dari ikatan tertentu meskipun pada beberapa tempat cukup hanya dengan copy buku tabungan.
Kalau sudah begini mau tidak mau pekerja remote project ini merogoh sebagian penghasilannya untuk mengurus pembuatan sertifikat usaha berupa CV yang biaya pembuatannya berkisar 1.5 hingga 2 juta rupiah termasuk notaris.
Memang uang sebesar itu tidak masalah jika sudah pada level middle worker.
Kesimpulan Sementara
- Status “Bekerja Kantoran” masih tetap dibutuhkan disamping pekerjaan remote project, bedanya remote project pekerjaan utama, “bekerja kantoran” menjadi sampingan, carilah pekerjaan resmi yang tidak memakan waktu banyak, yang penting diakui di kalangan masyarakat umum

- Perlu di rencanakan kedepannya untuk mengembangkan dari remote project individu menjadi sebuah agensi kecil.
- Tidak usah khawatir untuk SDM freelancer, SDM tersebut akan terus ada, carilah mahasiswa di universitas – universitas yang ingin mencari tambahan uang.
- Jangan sayang – sayang membuang uang untuk membuat sertifikat CV perusahaan, nilai positifnya banyak disamping mempermudah mengurus kredit (karena kita bisa bikin dan keluarkan slip gaji sendiri semaunya
), diantaranya kalau ditanya calon mertua tinggal bilang punya perusahaan sendiri, kalau perlu keluarkan sertifikat CVnya 
- Skill benar – benar diperlukan jika memilih jalan remote project, karena diluar sana benar – benar skill yang menjadi patokan harga anda, skill tinggi akan mendapat bayaran yang pantas.
- Jangan kaitkan ini dengan isu nasionalisme atau ketidak pedulian terhadap perkembangan dunia IT dan MI di Indonesia, pertama ini mendatangkan devisa, kedua perkembangan akan terus berlangsung di tahapan merekrut freelancer, mungkin satu satunya yang dirugikan disini adalah perusahaan lokal yang kehilangan kesempatan mendapatkan SDM berkualitas lantaran menyaring SDM hanya menggunakan kualifikasi berdasarkan administatif (ijazah, sertifikat kursus, dsb)
Artikel yang mungkin terkait:
Sharing ke Twitter




saya sangat tertarik dengan web design…tapi kemudian bertanya..dari mana penghasilan web designer?? sementara sekarang membuat website tinggal klick sana sini jadi deh…ada joomla, wordpress dan sekawanannya..
@aliv:
Pertanyaan yang menarik, pertama – tama perlu diketahui juga kalau web designer dengan web developer itu berbeda pengertian detailnya.
Lalu yang bro Aliv maksud mungkin adalah open source dan fasilitas install tinggal click seperti Fantastico pada Cpanel. Benar sekali, tinggal click jadi, mau ganti desain tinggal googling.
Nah dari kemudahan – kemudahan itu tetap ada jasa yang dicari, yaitu jasa setting website kalau yang tinggal click dan install itu tidak ingin dikatakan developing website. Banyak juga orang yang mungkin malas mengerjakannya sendiri, atau malah tidak paham secara menyeluruh sehingga membutuhkan “jasa setting website” ini
Kemudian, selain open source yang tinggal click tadi, ada juga jenis pengerjaan yang namanya inhouse development, membangun situs dari awal / scracth building. Pada level ini keahlian click2 yang pada instalasi open source tadi tidaklah cukup.
Kemampuan menguasai bahasa pemrograman, pemahaman akan pembangunan frame work, OOP, reka skema database, dan lainnya dibutuhkan. Tentu saja fee / honornya berbeda dengan jasa setting website diatas tadi. Dari sisi lisensi juga sudah berbeda.
Semisal kita tidak mengembangkan diri dari level entry ke level berikutnya, maka begitu mendapat task pengerjaan website inhouse development maka kita akan bingung, baik dari sisi manajemen developmentnya, maupun teknisnya.
Saya kasih salah satu contoh output hasil dari pengerjaan inhouse development, yaitu database schema:
http://farm2.static.flickr.com/1296/533233247_d8ac5afbec_o.jpg